Ie Bu Peudah masih menjadi salah satu sajian tradisional yang bertahan di sejumlah gampong di Aceh Besar, terutama saat bulan Ramadan.
Di tengah beragam menu berbuka yang kian modern, hidangan ini tetap hadir dengan ciri khasnya: racikan puluhan daun hutan yang dipadukan dengan rempah-rempah pilihan.
Bagi sebagian masyarakat, Ie Bu Peudah bukan sekadar makanan, melainkan warisan kuliner yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Menjelang sore di bulan puasa, aktivitas di balai gampong atau meunasah mulai terlihat lebih hidup. Warga berdatangan membawa bahan, sementara sebagian lainnya mulai menyiapkan peralatan memasak.
Di antara mereka, Rizal tampak sibuk mengoordinasikan proses pembuatan Ie Bu Peudah—pekerjaan yang sudah lama ia tekuni.
Rizal, salah seorang peracik Ie Bu Peudah di Aceh Besar, mengatakan proses pembuatan hidangan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurutnya, keistimewaan Ie Bu Peudah terletak pada komposisi bahan yang mencapai sekitar 44 jenis daun hutan.
“Ie Bu Peudah ini memang khas karena menggunakan banyak daun hutan. Kurang lebih ada 44 macam daun yang kami kumpulkan, lalu diramu dengan rempah,” ujar Rizal.
Puluhan daun tersebut biasanya dipetik langsung dari lingkungan sekitar gampong. Proses pengumpulan bahan kerap dilakukan sejak pagi hari agar semua daun masih dalam kondisi segar saat dimasak. Setelah itu, daun disortir, dicuci bersih, lalu dirajang sesuai kebutuhan.
Rizal menjelaskan, setiap jenis daun memiliki karakter rasa yang berbeda. Ada yang menghadirkan rasa pahit ringan, ada yang memberi aroma segar, bahkan ada yang berfungsi menyeimbangkan rasa keseluruhan. Perpaduan inilah yang membuat Ie Bu Peudah memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan pada masakan lain.
Memasuki pukul 16.00 WIB, proses memasak biasanya mulai dilakukan. Api dinyalakan, bumbu diracik, dan daun-daun yang telah disiapkan dimasukkan secara bertahap. Aktivitas berlangsung teratur, dengan warga saling berbagi peran.